Cara Daftar Judi Bola Online M88

Tantangan tersebut lantas memicu para orang tua untuk mempersiapkan anak-anaknya sejak dini dengan pendidikan yang terbaik dan berstandar internasional. Mereka tidak ragu merogoh kocek dalam-dalam demi pendidikan anak di lembaga/yayasan bergengsi.nn
Wike Dita Herlinda
Wike Dita Herlinda - Cara Daftar Judi Bola Online M88 caradaftarjudibolaonlinem88.huiqingquan.com 04 Juni 2017  |  17:17 WIB
Sekolah Internasional Wajib Ganti Status Jadi SPK. Bagaimana Standar Pendidikannya?
SIS-Kelapa Gading - melayutoday

Kabar24.com, JAKARTA - Era keterbukaan lintas batas mau tak mau mendorong umat manusia untuk lebih kompetitif dalam segala hal. Barang siapa tidak memiliki keahlian khusus atau spesialisasi, sudah pasti dia akan tergilas dalam ketatnya persaingan hidup.

Tantangan tersebut lantas memicu para orang tua untuk mempersiapkan anak-anaknya sejak dini dengan pendidikan yang terbaik dan berstandar internasional. Mereka tidak ragu merogoh kocek dalam-dalam demi pendidikan anak di lembaga/yayasan bergengsi.

Sejalan dengan itu, sekolah-sekolah berstandar internasional pun semakin menjamur di banyak kota Indonesia. Mereka mematok biaya pendidikan sangat tinggi, dengan iming-iming pembekalan skill dan daya kompetisi yang lebih mumpuni bagi anak.

Sekolah-sekolah tersebut kini lebih dikenal sebagai satuan pendidikan kerja sama (SPK), sesuai dengan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No.31/2014. Mereka pun memiliki perhimpunannya sendiri di bawah Perkumpulan Sekolah SPK Indonesia.

Lantas, bagaimana sebenarnya standar pendidikan di sekolah-sekolah SPK yang ada di Indonesia? Apakah biaya pendidikan yang tinggi membuat sekolah-sekolah SPK lebih unggul dibandingkan sekolah nasional atau nasional plus?

Berikut penuturan Haifa Segeir, Ketua Perkumpulan Sekolah SPK Indonesia, sekaligus Chief Administrative Officer di Singapore International School (SIS) Group of Schools.

TERKAIT KEWAJIBAN SPK

Kapan Perkumpulan Sekolah SPK Indonesia didirikan dan apa tujuan awalnya? Berapa saat ini anggota perkumpulan ini?

Setelah pemerintah menerbitkan Permendikbud No.31/2014, beberapa sekolah internasional mempunyai ide untuk membuat perkumpulan, karena tadinya kami tidak memiliki naungan dan berjalan sendiri-sendiri.

Sejak Januari 2017, setelah konvensi kami yang kedua, perkumpulan ini baru disahkan secara hukum. Mengenai anggotanya sendiri, kategori yang kami gunakan berbeda dengan yang dianut Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Kemedikbud menghitung sekolah SPK berdasarkan satuan pendidikan. Sementara itu, kami menghitung berdasarkan yayasannya. Kalau dilihat dari yayasan, saat ini jumlah anggota kami ada 70 yayasan. Namun, masing-masing yayasan biasanya memiliki setidaknya 9 satuan pendidikan [sekolah].

Saat ini, jumlah sekolah SPK di Indonesia ada sekitar 400-an, dan berdasarkan dari jumlah yang yayasan yang sudah bergabung dengan kami, setengah dari total sekolah SPK di Indonesia sudah menjadi anggota kami.

Pemerintah sudah menetapkan aturan agar sekolah internasional berganti status menjadi SPK sejak 2014. Sejauh ini bagaimana sekolah-sekolah internasional yang ada di Indonesia merespons peraturan tersebut?

Dampaknya berbeda-beda untuk setiap sekolah. Namun, tantangan terbesarnya kebanyakan adalah tidak terbiasa dengan sistem yang diwajibkan. Misalnya, mengharuskan adanya mata pelajaran agama, bahasa Indonesia, dan pendidikan kewarganegaraan.

Kami hanya diberi waktu 3 bulan untuk penyesuaian. Padahal, kami tidak bisa mengubah kurikulum begitu saja semudah membalikkan tangan. Kami harus mempersiapkan silabusnya, membekali gurunya, membuat program, sosialisasi ke orang tua, dan sebagainya.

Salah satu yang paling menuai keberatan adalah keharusan adanya mata pelajaran agama. Sebab, kebanyakan sekolahinternasional memiliki murid ekspatriat dan orang tua mereka menganggap bahwa agama adalah hal yang pribadi.

Banyak dari orang tua murid yang juga memutuskan untuk memasukkan anaknya ke sekolah internasional karena mata pelajarannya lebih sekuler. Nah, untuk itu kami membutuhkan waktu agar bisa mensosialisasikan peraturan tersebut kepada orang tua murid.

Belum lagi soal keharusan sekolah SPK untuk menggelar ujian nasional. Selama ini kami belum pernah melakukannya, karena kurikulum kami berbeda sekali dengan kurikulum sekolah nasional.

Selama ini sekolah internasional tidak menggelar ujian [exam] karena sifatnya yang punitif. Kami lebih menggunakan sistem assessment, sebab kami percaya kemampuan setiap anak satu sama lain berbeda dan tidak bisa diukur dengan nilai akademis semata.

Bagaimana pun, pada intinya kami tetap mendukung apapun peraturan pemerintah yang memiliki tujuan positif.

 

TREN MENYEKOLAHKAN ANAK DI SPK

Dari tahun ke tahun, bagaimana Anda melihat perkembangan minat menyekolahkan anak di sekolah-sekolah SPK? Apa faktor yang memengaruhi?

Saya lihat trennya terus naik, seiring dengan data statistik pertumbuhan ekonomi masyarakat kelas menengah di Indonesia. Ekonomi makro sangat memengaruhi daya beli masyarakat dan keinginan untuk menyekolahkan anak mereka di lembaga yang lebih berkualitas.

Beberapa tahun belakangan, peningkatan murid WNI di banyak sekolah internasional—kecuali sekolah embassy—semakin tajam dan berbanding lurus dengan penurunan murid WNA, meskipun tidak signifikan.

Sekolah SPK selalu identik dengan biaya pendidikan tinggi. Namun, apa sebenarnya program atau sistem pendidikan yang ditawarkan oleh sekolah SPK yang lebih unggul dibandingkan dengan sekolah nasional atau nasional plus?

Sekolah SPK menggunakan pendekatan student-centered. Artinya, kurikulum pendidikan kami menyesuaikan dengan kebutuhan masing-masing anak. Berbeda dengan kurikulum nasional yang menggunakan satu acuan untuk diterapkan ke semua murid alias one size fits all.

Masing-masing sekolah SPK yang ada di Indonesia menggunakan kurikulum yang berbeda-beda, tetapi secara umum semuanya memiliki karakter student-centered.

Dengan biaya pendidikan tersebut, kami menyiapkan anak untuk mendapatkan skill atau kemampuan yang dia butuhkan kelak. Jangan sampai dia terpaku pada mata pelajaran-mata pelajaran yang sebenarnya 10 tahun lagi sudah tidak relevan bagi dia.

Sistem pendidikan di sekolah SPK ini didasari oleh riset bahwa skill yang dibutuhkan oleh anak-anak kita kelak belum tentu sama dengan skill yang dibutuhkan oleh kita saat ini.

Oleh karena itu, di sekolah SPK anak lebih dipacu untuk berinovasi atau menciptakan sesuatu, dan bukan lagi sekadar mengikuti apa yang sudah ada sekarang. Mereka didorong untuk terus berpikir ke depan.

Bagaimana sekolah SPK memberikan jaminan kualitas lulusan yang setara dengan biaya pendidikan yang tinggi?

Salah satu keunggulan sekolah SPK adalah, sejak dini murid-murid sudah diarahkan untuk mengasah bakat mereka. Sejak dini, mereka sudah dibimbing ‘mau ke mana dan mau jadi apa mereka kelak’ sesuai dengan ketertarikan dan kemampuan mereka.

Murid tidak diharuskan mengampu pelajaran jika mereka tidak tertarik dan toh tidak akan digunakan di masa depan. Jadi, tidak perlu semua mata pelajaran dipelajari. Dengan demikian, sejak awal mereka dididik dan dibekali untuk menjadi seorang expertise.

Dari mana acuan kurikulum yang diterapkan di sekolah-sekolah SPK? Apakah ada standarnya juga?

Sebenarnya kurikulumnya bebas asalkan terakreditasi. Hanya saja sekarang diwajibkan menambahkan tiga mata pelajaran yaitu bahasa Indonesia, agama, dan kewarganegaraan.

Apa saja fasilitas standar yang harus dimiliki sekolah SPK?

Yang jelas harus berbasis teknologi dan memenuhi prasyarat sarana dan fasilitas minimal. Selain itu, mengantongi akreditasi lembaga internasional yang sah, serta standardisasi SPK dari Badan Akreditasi Nasional [BAN].

Khusus untuk akreditasi dari BAN, saat ini aturan yang sudah siap dijalankan baru untuk SPK tingkat PAUD dan TK. Adapun, untuk sekolah SPK tingkat SD hingga SMA masih belum selesai dibuat aturannya.

Kami sedang berdialog dengan pemerintah agar standar untuk pendidikan SPK tingkat SD hingga SMA sesuai dan cocok dengan kondisi kurikulum berbasis internasional. Sebab, jika dipaksakan menggunakan indikator nasional, itu kurang applicable untuk kami.

Apa hal-hal yang harus diperhatikan orang tua sebelum mendaftarkan anaknya ke sekolah SPK?

Hal pertama yang harus diidentifikasi adalah menyesuaikan keinginan orang tua dengan kebutuhan anak. Setiap orang tua memiliki ekspektasi berbeda-beda saat hendak menyekolahkan anaknya di sekolah SPK.

Ada orang tua yang maunya anaknya mencapai kesempurnaan akademis, tapi ada juga yang tidak mementingkan nilai akademis asalkan anaknya mendapatkan pendidikan secara holistik. Semua kembali lagi ke profil orang tuanya.

Setelah bisa mengidentifikasi kebutuhannya, baru mencari profil sekolah yang cocok untuk anaknya. Apakah itu SPK berbasis religi, SPK berbasis ekspatriat, atau yang lainnya. Semua tergantung kebutuhan orang tua dan anak.

Kedua, pastikan legalitas sekolah SPK yang hendak dituju. Sekadar catatan, latar belakang dibentuknya Permendikbud No.31/2014 adalah untuk menertibkan sekolah-sekolah internasional yang jumlahnya semakin banyak.

Saat ini banyak sekali sekolah yang mengaku ‘internasional’, tapi tidak ada akreditas legalnya. Itulah yang hendak ditertibkan pemerintah. Oleh karena itu, penting bagi orang tua untuk memperhatikan akreditasi, profil, dan reputasi sekolah yang hendak dituju.

Pastikan sekolah tersebut memang memiliki izin legal untuk menjalankan program atau kurikulum yang diharapkan.

TENTANG SINGAPORE INTERNATIONAL SCHOOL (SIS)

Anda juga menjabat sebagai Chief Administrative Officer di SIS. Terlepas dari Perkumpulan Sekolah SPK Indonesia, boleh dijelaskan, apa saja program/fasilitas di SIS yang diberikan yang membedakan dari sekolah-sekolahSPK lain?

Keistimewaan kami adalah mengombinasikan 3 kurikulum internasional. Kami memperkaya paparan pendidikan anak terhadap kurikulum Singapura, Cambridge, dan International Baccalaureate [IB] berdasarkan riset.

Untuk pendidikan kelas 1-10, kami menerapkan kurikulum Singapura dan Cambridge yang sifatnya lebih ditujukan untuk mematangkan murid secara akademis. Jadi, fondasinya diperkuat dulu dengan ilmu-ilmu akademis.

Baru pada kelas 11-12, kami memasukkan kurikulum IB untuk mempertajam daya analisisnya. Pada jenjang ini, kami juga membekali murid dengan ilmu terapan dan memfokuskan ke mana arah murid yang bersangkutan.

Apakah SIS memberikan keringanan untuk siswa tertentu?

Kami memiliki 8 satuan pendidikan; 4 di Jakarta dan 4 lainnya di luar Jakarta. Biaya pendidikan yang dipatok untuk setiap sekolah berbeda-beda, berdasarkan riset profil murid di sekolah yang bersangkutan.

Misalnya saja, untuk SIS di Palembang, biaya pendidikannya hanya 10% dari uang sekolah di SIS Bona Vista Jakarta tetapi tetap dengan standar kurikulum dan sistem pendidikan yang sama. Perbedaannya, di sana profil muridnya dan gurunya 100% lokal/WNI.

Kalau di SIS Jakarta guru native speakers  dan murid ekspatriatnya memang lebih banyak, sehingga paparan murid lokal terhadap lingkungan internasional lebih tinggi. Namun, berbeda dengan SIS di Semarang, misalnya. Itulah sebabnya biaya pendidikan menyesuaikan.

Kami memang punya misi agar pendidikan berkualitas bisa mencakup lebih banyak kalangan menengah. Mudah-mudahan ke depannya kami bisa merambah ke lebih banyak wilayah lagi, dengan menawarkan kualitas edukasi terbaik dengan biaya yang tidak terlalu memberatkan.

Selain itu, kami juga menawarkan banyak program beasiswa akademis dan nonakademis. Misalnya saja, program Soccer Scholarship, khusus bagi siswa yang berprestasi di bidang olah raga sepak bola.

Selain kualitas pendidikan, apa manfaat lebih yang diberikan SIS kepada muridnya?

Kami memiliki jaringan alumni yang sangat kuat di seluruh dunia, yang bisa menyediakan link ke universitas-universitas terkemuka di seluruh dunia. Itu adalah keunggulan yang bisa dirasakan oleh murid-murid kami.

Manfaat lainnya adalah, kami menawarkan kesempatan kepada murid lokal untuk bisa lebih berinteraksi dengan dunia internasional. Sebab, ada lebih dari 20 kewarganegaraan yang bergabung dengan sekolah kami di Indonesia.

Jadi, murid bisa mendapatkan international exposure tanpa harus jauh-jauh ke luar negeri untuk memperkaya wawasan mereka dan menambah interaksi mereka dengan budaya yang beragam. 

Editor : Saeno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top